Borobudur, Senin 09 Mei 2016
Resah didadamu
dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini
dipisah kata-kata
Begitu pula rindu
lihat tanda tanya itu
jurang antara kebodohan dan keinginan
memilikimu sekali lagi
 >>>>>>>>>>_ditransliterasi dari https://youtu.be/IFkdv2ESrp8

WhatsApp-Image-20160503

aku nonton sendiri ditemani HOT Lychee Tea (teh panas rasa leci) harganya teh panas ini sama dengan harga tiket 35ribu, (totalnya jadi 70 ribu per orang) harga yang pantas sebagai teman nonton selama dua jam satu menit

IMG_20160510_130741
saking “cinta” nya dengan AADC2 aku sampai nonton dua kali, offcourse yang kedua kali bersama sang pacar (kami pacaran setelah akad nikah loh ya, jadi udah syah)

 

Saking banyaknya dan antusiasnya dengan film ini, para blogger pun banyak yang membuat resensi film, nah aku juga mau ikutan, tapi kali ini aku menulis tentang tempat tempat syuting AADC 2 yang pernah aku kunjungi datangi

 

nah nungguin kan ceritaku, aku cerita sesuai alur di dalam film ya, tempat yang ketiga yang didatangi oleh cinta setelah dipaksa oleh Karmen, Maura dan si kocak milly untuk ketemu rangga adalah ISTANA RATU BOKO, kenapa dinamakan Istana karena ini dahulu adalah bekas reruntuhan istana yang luas banget, jalannya pun naik turun, yang paling asik adalah adegan ngobrol diantara bebatuan candi

1.Istana Ratu Boko

Lokasi nya depan Candi Prambanan, nyebrang jalan kurang lebih 3 Km

 

aadc2 romantis
pasti pengen banget kan, ngobrol di tempat asik seperti ini, tapi jangan berdua-duan ya, itu JAHAT eh itu nggak baik
BenQ Corporation
tuh luas banget kan, kalo diliat dari atas bukit di bagian kiri samping pintu utama (koleksi foto pribadi) Rangga dan Cinta lari lari diantara dua pohon itu 
BenQ Corporation
setelah keliling istana ratu boko, kita bisa beristirahat di taman yang cantik dan bertangga_tangga (aku paling ujung)

 

 

2. GEREJA AYAM

sebagian besar lokasi syuting di Jogja dan sebagian kecil di Magelang

Yuk lanjut ke lokasi selanjutnya yakni di Sekitaran Candi Borobudur Magelang, Rangga dan Cinta Jalan jalan Sehari Penuh, nyampe di BUkit Rhema atau Gereja Ayam waktu sebelum subuh, karena pemadangan akan bagus banget kalo menikmati Matahari terbit dan Pagi yang berkabut

Berikut daftar lokasi wisata di Yogyakarta dalam film AADC 2:

Lokasi Wisata
1. Rumah Doa Bukit Rhema: Lokasi yang juga dikenal dengan sebutan gereja ayam ini letaknya tak jauh dari Punthuk Setumbu, bahkan dapat ditempuh dengan berjalan kaki.
Tempat ini adalah sebuah bangunan unik yang dibangun seorang pastur setelah ia mendapatkan ilham untuk membangun tempat berdoa yang diperuntukan bagi seluruh umat beragama.
2. Punthuk Setumbu: Bukit ini menjadi salah satu tempat rahasia yang hanya diketahui para fotografer yang inigin mengambil angle foto Borobudur yang cantik. Sangat sedikit masyarakat umum yang tahu lokasi ini.
Di lokasi yang termasuk salah satu UNESCO Heritage Site ini, kamu dapat menyaksikan sendiri kecantikan pemandangan Borobudur di pagi hari, lengkap dengan matahari.
Kamu disarankan untuk memulai hiking saat pagi buta dan menikmati pemandangan terbitnya matahari seakan-akan muncul dari balik Borobudur.
5. Istana Ratu Boko: Jika kamu menyukai sejarah, jangan lupa kunjungi tempat yang satu ini. Istana Ratu Boko adalah bekas kompleks istana yang dibangun pada abad kedelapan dan terdiri dari beberapa bagian bangunan.
Dari lokasi ini, kamu dapat melihat pemandangan indah kota Yogyakarta dan Candi Prambanan dengan latar Gunung Merapi.
6. Kota Gede: Di lokasi ini terdapat sederetan toko pengrajin perak dengan arsitektur klasik. Berbagai perhiasan dan kerajinan perak yang cantik dapat ditemukan di sini.
Selain itu, kamu juga dapat menyusuri Kota Gede dan seolah-olah masuk ke dalam mesin waktu masa lalu.
11. Pantai ParangKusumo: Hanya 45 menit dari Kota Yogyakarta, kamu dapat menghirup udara air laut di Pantai ParangKusumo.
Berdampingan dengan pantai Parangtritis, di pantai ini kamu bisa menikmati pemandangan terbenamnya matahari di sore hari.
Pantai ini diyakini sebagai gerbang utama pantai selatan dan memiliki hempasan ombak yang besar.
Lokasi wisata Kuliner:
3. Klinik Kopi: Kedai milik seniman kopi Pepeng ini menghadirkan beragam pilihan kopi yang telah melalui proses pengolahan secara lokal.
Mulai dari sourcing biji kopi lokal, roasting, penggilingan, sampai akhirnya menjadi kopi bubuk yang siap diolah, semua dilakukan oleh staf di kedai ini.
4. Lokal Resto: Restoran ini terletak tepat di depan Hotel Lokal dan memiliki desain interior yang instagram-able.
Selain tegel motif kawung dan mural, restoran ini juga menyajikan pilihan makanan yang mengusung konsep lokal, mulai dari penggunaan bahan-bahan makanan hingga perlengkapan makan.
7. Restoran Bu Ageng: Di restoran ini kamu bisa menikmati masakan dari resep turun temurun milik keluarga seniman Butet Kertaradjasa.
Selain menikmati menu nasi campur dan bubur duriannya, jika beruntung, kamu juga bisa bertemu langsung dengan Butet yang sering hadir menjumpai para tamu.
8. Via-Via Restaurant & Bakery: Rumah makan yang dikenal sebagai the home restaurant for world traveler ini menyajikan makanan berbahan organik dan bebas MSG.
Jika berkunjung ke sini, kamu harus mencoba signaturebread, roti pita, serta foccacia. Untuk santai di sore hari, kamu bisa menikmati berbagai dessert, mulai dari cheese cake yougurt, hingga strawberry blondie.
9. Sellie Coffee: Kafe mungil ini memberikan kejutan untuk para pengunjungnya dengan interior yang selalu berganti setiap beberapa bulan sekali.
Kamu bisa menikmati berbagai jenis kopi dari penjuru nusantara sambil ditemani singkong goreng atau crispy mushroom.
10. Sate Klathak Pak Bari: Sate kambing ini dibakar di atas bara api dengan menggunakan tusuk dari jeruji besi sepeda, sehingga panas api menyebar merata keseluruh bagian daging dengan sempurna.
Meskipun hanya dibumbui garam, rasa daging kambingnya terasa begitu empuk dan asli. —Rappler.com

Film ini telah ditonton lebih dari satu juta  penonton pertanggal 2 mei jam 12.30

Sukses besar film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) di tahun 2002 lalu, menjadi salah satu alasan Miles Film, Kamis (28/4) resmi meluncurkan sekuelnya yaitu Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2). Tak hanya di Indonesia, film yang dulu bergenre remaja ini juga diputar di dua negara tetangga Malaysia dan Brunei Darussalam. Banyak yang antusias menunggu film ini resmi tayang. Lalu bagaimana dengan filmnya?

Penantian penggemar AADC selama beribu-ribu purnama alias 14 tahun dua bulan nggak akan sia-sia. Sebab akan terpuaskan oleh film berdurasi 121 menit tersebut. Kenapa? Karena plot dan cerita AADC 2 hampir sama dengan AADC dimana yang paling dominan adalah konflik percintaan antara Cinta (Dian Sastrowardoyo) dengan Rangga (Nicholas Saputra) dan kehebohan Geng Cinta yang digawangi Cinta, Milly, Carmen dan Maura, tentu dengan pemahaman yang lebih dewasa.

Selama dua jam lebih semenit tersebut, kalian dijamin nggak akan bosan oleh adegan-adegan Geng Cinta yang heboh abis ketika berlibur ke Kota Yogyakarta. Pertemuan Rangga dan Cinta di Kota Gudeg itu terjadi tanpa dirancang sebelumnya. Rangga yang tiba-tiba pulang dari Amerika Serikat (AS) karena suatu hal kemudian menuju ke Jogja demi seseorang dalam kehidupannya, Cinta kah? Bukan. Ketika sedang berjalan-jalan di kawasan di Jogja, tanpa disangka, Milly dan Carmen melihatnya. Meski ada kebimbangan, Geng Cinta akhirnya memberitahukan keberadaan Rangga di kota yang sama dengan mereka tersebut.

Di film tersebut Riri Riza sebagai sutradara berhasil membuat konflik batin Cinta ketika diajak ketemu oleh Rangga yang bertahun-tahun meninggalkannya. Detail-detail adegan ketika Cinta bingung, bimbang, dan gusar digambarkan secara natural. Persis seperti remaja yang diajak ketemuan mantan yang masih dicintainya. Pokoknya kalau kamu pernah merasa bimbang saat diajak ketemuan mantan, udah nggak ada beda deh, top!

Dengan didukung sederet seniman lokal seperti Kill The Dj, Eko Nugroho, Pepeng Klinik Kopi, film yang 70 persen syutingnya mengambil tempat di Yogyakarta tersebut juga dinilai berhasil mengeksplorasi keindahan, keunikan dan keeksotisan Kota Pelajar yang membuat film ini begitu indah. Hal itu disampaikan Budayawan asal Jogja, Butet Kertaredjasa kepada sang Sutradara pada saat pemutaran perdana di Yogyakarta.

“Hebat, terima kasih sudah sukses mempromosikan Yogyakarta dalam film-mu,” ucap Butet kala itu yang disambut pelukan oleh Riri Riza.

Soal akting, tentu nggak usah meragukan kualitas Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra dan para pemeran lainnya, udah deh dijamin keren abis! Ceritanya keren abis, tahu sendiri kan track recordnya Riri Riza? Tapi by the way, kenapa tidak ada nama Alya (dulu diperankan oleh Ladya Cheryl)? Hmm, jawabannya persis seperti bagaimana kelanjutan hubungan Cinta dan Rangga, yaitu tonton filmnya di bioskop mulai hari ini. Dijamin terpuaskan deh penantianmu!

 

Tak hanya dipadati oleh fans fanatik Geng Cinta maupun Nicholas Saputra alias Rangga. Gala Premiere #AADC2 ternyata juga dihadiri oleh keluarga Keraton Yogyakarta. Salah satu putri Sultan Hamengkubowono X, Jeng Reni, dengan dress kuning terlihat sumringah saat ditemui di Empire XXI dalam acara penayangan film fenomenal tersebut, Sabtu (23/4).

Meskipun sudah dandan cantik, ternyata Jeng Reni tetap mengaku kebawa perasaan alias baper sama Rangga. Lha, kok bisa ya?

“Iya sih, terlalu ngeselin,” kata Jeng Reni ketika ditanya karakter Rangga yang bikin baper. Bahkan istri Mas Ubay itu sendiri berharap Rangga tidak menikah dengan Cinta di #AADC2. Duh! Tapi gimana sih ending dari film ini? Tunggu tanggal 28 April aja deh ya!

Wanita 29 tahun yang mempunyai nama lengkap Gusti Kanjeng Ratu Bendoro ini mengaku senang karena Jogja dipilih sebagai tempat sekaligus gala premiere #AADC2.

“Pasti bangga, sekarang Jogja bukan lagi kota pariwisata, tetapi sudah tujuan film nasional untuk syuting,” ujarnya kepada brilio.net di lokasi acara.

Selain itu, wanita yang menonton sudah menonton Ada Apa Dengan Cinta saat SMP ini berharap bahwa efek dari film ini bisa menaikkan iklim pariwisata di Kota Gudeg.

“(Film ini semoga) membuat Jogja tambah terkenal, mendatangkan pariwisata yang sangat besar,” pungkasnya.

 

Karina Ayu Pradita 28 April 2016 16:31

10 Alasan kenapa kamu harus nonton AADC2, bikin kangen geng SMA!

Nggak hanya cinta lama, kamu juga bakal inget sama geng SMA dulu!

Brilio.net – Film Ada Apa Dengan Cinta? 2 hari ini, Kamis (28/4), perdana diputar serentak di bioskop Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Banyak yang menebak-nebak seperti apa kelangsungan hubungan Rangga dan Cinta. Apakah benar Cinta setia menanti selama 14 tahun?

AADC muncul di tengah kelesuan perfilman Indonesia kala itu. Tak heran jika AADC banyak dipuja dan diikuti oleh kemunculan film-film Indonesia berikutnya. 14 tahun berlalu, Mira Lesmana memproduksi sekuelnya. Tak hanya kelanjutan Cinta dan Rangga, apa sih yang menjadi daya tarik dari film yang akhirnya dibuat sekuelnya setelah 14 tahun ini?

Berikut ini 10 alasan kamu wajib nonton AADC 2 yang dirangkum brilio.net, Kamis (28/4). Awas baper!

1. Chemistry Rangga dan Cinta masih sangat kental seperti AADC tahun 2002,  awas inget mantan!

2. Keindahan Yogya yang belum begitu terjamah menjadi latar belakang film ini, ekstotis lho!

3. Tak hanya Yogya, setting New York pun menjadi daya tarik tersendiri dengan musim saljunya, aww baper!

4. Kisah tentang geng Cinta pun tak luput menyita perhatian, bikin kangen geng SMA

5. Dian Sastro sukses memerankan Cinta dengan apik, emang ikonik banget sih!

 

6. Tak lagi kaku, Rangga lebih humoris. Penasaran?

7. Semua aktris dan aktor berperan apik dan mendalami karakter dengan sangat sempurna, tak berbeda dengan saat di AADC tahun 2002.

8. Riri Riza tak berlebihan dalam menggarap film ini, tapi justru hasilnya sangat mengena dan membekas di penonton.

9. Asyiknya reuni geng Cinta, bikin pengen reuni juga!

10. Alur yang cantik dan tak tergesa-gesa, namun pas, membuat penonton betah dan tak terasa dalam menikmati film yang berdurasi 121 menit ini.

Selain menghadirkan kisah yang ditunggu-tunggu selama 14 tahun lamanya, AADC 2 memang hadir dengan konsep yang berbeda. Mengambil setting di tiga kota, yaitu Yogyakarta, Jakarta dan New York membuat AADC 2 hadir sebagai film yang kaya akan tampilan tempat-tempat eksotik.”Hampir 70% lokasi syuting kami lakukan di Yogyakarta, kami ingin menampilkan sisi lain dari Jogja di film AADC 2 ini dan Jogja sangat sesuai untuk Rangga Cinta dan gengnya,” ujar Riri Riza selaku sutradara kepada brilio.net, Sabtu (30/4).

BACA JUGA:Mainan HP itu bisa bikin kamu ‘sehat’ lho, kayak 7 meme ini contohnya

Penasaran di mana saja lokasi syuting AADC 2 di Jogja? Berikut 16 lokasi syuting AADC 2 dari yang romantis sampai bikin baper yang wajib kamu kunjungi.

1. Rumah Doa Bukit Rhema.

Rumah Doa Bukit Rhema jadi saksi perbincangan serius Cinta dan Rangga setelah berpisah selama 14 tahun. Gereja yang berbentuk ayam ini terletak di Dusun Gombong, Desa Kembanglimus, Magelang, Jawa Tengah. Udara segar dan pemandangan yang serba hijau menambah romantis tempat ini.

2. Punthuk Setumbu.

Punthuk Setumbu terletak di Dusun Kerahan, Desa Karangrejo, Borobudur, Magelang, lokasinya tidak begitu jauh dari Candi Borobudur dan menjadi tempat terbaik untuk menyaksikan matahari terbit dengan latar belakang megahnya Candi Borobudur. Romantis banget deh kayak Rangga dan Cinta.

3. Klinik Kopi.

Kamu yang sudah menonton AADC 2 pasti tahu dong seorang barista yang sempat ngobrol dengan Rangga dan Cinta? Ya, dia adalah Pepeng pemilik Klinik Kopi. Dengan konsep ya unik kedai kopi yang berada di Jalan Kaliurang Km 7,5 ini mampu membuat perbincangan Rangga dan Cinta semakin akrab. Pengen ngerasain kopi yang dinikmatin Cinta dan Rangga?

4. Lokal Resto.

Lokal Resto salah satu restoran dengan konsep yang sangat unik yang berada di jalan Jembatan Merah nomor 104C, Yogyakarta. Tentunya keapikan restoran ini juga tersaji di AADC 2.

5. Oxen Free.

Selain Klinik Kopi, Kota Gudeg juga memiliki berbagai kedai kopi dan cafe yang sangat menarik dan unik lho salah satunya Oxen Free yang juga menjadi bagian dari kisah pertemuan Rangga dan Cinta.

6. Istana Ratu Boko.

Semuanya tentu setuju bahwa Istana Ratu Boko adalah salah sau tempat terbaik untuk menikmati sunset di Jogja. Berada di Jalan Solo Km 17, Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, istana yang luasnya 250 ribu meter persegi ini akan menyuguhkan berbagai situs bersejarah seperti gapura utama, candi pembakaran, lapangan, pendopo hingga goa.

7. Papermoon Puppet Theatre.

Kalau kamu ke Jogja maka kamu tidak boleh melewatkan untuk mengunjungi Papermoon Papper Theatre yang ada di Jalan Langensuryo KT II No 176. Cinta dan Rangga menikmati malam romantis mereka lho disini sambil menikmati pertunjukan teater yang telah berdiri sejak 2006.

8. Kota Gede.

Lokasi berikutnya yang dipilih tim AADC 2 adalah Makam Panembahan Senopati yang ada di Kota Gede, Yogyakarta. AADC 2 benar-benar menghadirkan sisi keindahan yang berbeda dari Jogja, keren!

9. Restoran Bu Ageng.

Milly, Karmen dan Maura pun menyempatkan untuk menikmati sajian makanan yang lezat di Restoran Bu Ageng yang berada di Jalan Tirtodipuran No 13, Mantrijeron, Yogyakarta.

10. Via-via Restaurant & Bakery.

Selain menikmati berbagai destinasi menarik, Cinta dan gengnya pun menyempatkan untuk menikmati roti buatan Via-via Restorant & Bakery yang terletak di jalan Menukan, Brontokusuman, Mergangsan, Yogyakarta. Di toko roti ini juga pertama kali Milly dan Karmen melihat Rangga lho.

11. Sellie Coffee.

“Rangga, apa yang kamu lakukan ke saya itu, JAHAT!,” kamu inget dialog yang disampaikan Cinta ke Rangga ini? Ya, dialog panjang yang terjalin antara Cinta dan Rangga itu berlangsung di Sellie Coffee yang terletak di Jalan Geriliya No 882, Prawirotaman II. Kamu ingin mengulang ingatan film AADC 2 yang bikin baper? Maka kamu bisa mencoba untuk mampir ke Sellie Coffee.

12. Villa Sunset.

Keputusan geng Cinta untuk berlibur ke Yogyakarta rasanya memang sangat tepat sebab selain memiliki berbagai lokasi wisata bersejarah, Jogja pun memiliki pemandangan alam yang sangat menarik dan berbagai tempat menginap dengan konsep yang unik salah satunya Villa Sunset yang dipilih Cinta, Karmen, Maura dan Milly. Villa dengan konsep eksotik ini berada di Bangunjiwo, Kasihan, Bantul.

13. Greenhost Hotel.

Pameran karya seni Eko Nugroho dalam film AADC 2 berlangsung di hotel yang memiliki konsep ramah lingkungan ini. Ya, Greenhost Hotel yang ada di Jalan Prawirotaman II ini sekaligus menjadi hotel officialnya AADC 2 selama syuting di Jogja.

14. Sate Klatak Pak Bari.

Sate Klatak Pak Bari salah satu wisata kuliner terbaik yang ada di Yogyakarta dan tentunya Rangga dan Cinta pun tidak melewatkan untuk mampir ke warung sate yang ada di Jalan Kedaton, Pleret, Bantul.

15. Pantai Parangkusumo.

Kecerian geng Cinta pun sangat terlihat di saat mereka berkunjung ke Pantai Parangkusumo di Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, yang bisa ditempuh sekitar 45 menit dari pusat kota Jogja.

16. Padepokan Pak Bagong Kussudiarja.

Padepokan Pak Bagong Kussudiarja terkenal sebagai salah satu padepokan yang sangat aktif melakukan berbagai kegiatan berkesenian di Jogja. Padepokan yang berada di Desa Kembaran, Kasihan, Bantul ini menjadi lokasi syuting adegan yang bikin baper antara Rangga dan Cinta. Tempat ini menjadi tempat Cinta mengatakan selamat tinggal ke Rangga, duh!

Kamu penggemar berat AADC 2, maka kamu jangan sampai melewatkan untuk nostalgia ke 16 tempat tersebut untuk mengenang setiap adegan yang ada di AADC 2.

7 Tanggapan mengejutkan para artis soal akhir cerita film AADC 2

Kamu nggak akan menyangkanya sama sekali.

Brilio.net – Setelah menunggu kurang lebih 14 tahun lamanya akhirnya film Ada Apa Dengan Cinta 2 dirilis. Film ini dinilai banyak orang mampu membayar kerinduan penonton terhadap kisah romantisme Rangga dan Cinta. Film yang mengambil setting di Yogyakarta, Jakarta dan New York tersebut juga berhasil mencuri perhatian masyarakat Malaysia dan Myanmar.

Sabtu (23/4), yang lalu produser AADC, Mira Lesmana dan tim baru saja menggelar Gala Premiere yang sangat megah di Kota Gudeg tepatnya di Empire XXI. Kemewahan Gala Premiere tersebut juga dihadiri para selebritis dan seniman yang datang langsung demi menyaksikan film yang disutradarai Riri Riza. Tak hanya itu, para pemain AADC juha hadir, di antaranya Nicholas Saputra (Rangga), Dian Sastrowardoyo (Cinta), Adinia Wirasti (Karmen), Titi Kamal (Maura), Sissy Pricillia (Milly) dan Dennis Adiswara (Mamet).

Kamu pasti penasaran dengan pendapat para artis tentang akhir cerita film ini. Berikut hasil wawancara langsung brilio.net tentang pandangan mereka, Kamis (28/4):

1. Ario Bayu maunya sad ending.

“Kalau aku sih maunya Rangga dan Cinta sad ending aja biar lebih greget,” ujar Ario Bayu yang juga turut menjadi pemain di AADC 2.

2. Soimah semakin baper dengan Cinta dan Rangga.

Komedian sekaligus presenter cantik Soimah malah semakin baper setelah menyaksikan ending AADC 2. “Duh Mas Rangga makin bikin aku baper,” pungkasnya.

3. Laudya Chintya Bella merasakan penantiannya terhadap AADC 2 benar-benar terbayarkan.

“Ah, kerinduan terhadap AADC 2 terbayarkan dengan akhir ceritanya yang sangat apik,” komentar si cantik Laudya Chintya Bella.

4. Indra Birowo pengen ada AADC 3.

Tanggapan yang sangat mengejutkan. “Kalau endingnya gini jadi pengen ada AADC 3 lagi,” ujar Indra.

 

5. Dian Pelangi pengen Cinta dan Rangga menjadi keluarga yang bahagia.

“Pengen nonton lagi dan lagi dan pengen Cinta dan Rangga jadi keluarga yang bahagia,” ucap desainer kondang ini dengan penuh antusias.

6. Christian Sugiono ingin Cinta dan Rangga berakhir dengan cara yang nggak biasa.

Tanggapan mengejutkan juga datang dari suami Titi Kamal, Christian Sugiono, “Maunya sih Cinta dan Rangga berakhir dengan cara yang nggak biasa, romantis tapi menyakitkan.”

7. Nirina Zubir malah makin penasaran sama Rangga dan Cinta.

“Ya ceritanya sangat menarik bahkan setelah ceritanya berakhir aku malah masih pengen nonton kelanjutannya,” ujar presenter cantik ini.

Ini dia tanggapan tidak terduga para pesohor perihal akhir kisah Rangga dan Cinta. Kamu yang sudah nonton merasakan hal yang sama? Atau kamu yang belum nonton malah semakin penasaran? Jangan sampai ketinggalan deh liat kisah AADC 2 yang ngangenin ya.

 

10 Alasan kenapa kamu harus nonton AADC 2, bikin kangen geng SMA!

Nggak hanya cinta lama, kamu juga bakal inget sama geng SMA dulu!

Brilio.net – Film Ada Apa Dengan Cinta? 2 hari ini, Kamis (28/4), perdana diputar serentak di bioskop Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Banyak yang menebak-nebak seperti apa kelangsungan hubungan Rangga dan Cinta. Apakah benar Cinta setia menanti selama 14 tahun?

AADC muncul di tengah kelesuan perfilman Indonesia kala itu. Tak heran jika AADC banyak dipuja dan diikuti oleh kemunculan film-film Indonesia berikutnya. 14 tahun berlalu, Mira Lesmana memproduksi sekuelnya. Tak hanya kelanjutan Cinta dan Rangga, apa sih yang menjadi daya tarik dari film yang akhirnya dibuat sekuelnya setelah 14 tahun ini?

Berikut ini 10 alasan kamu wajib nonton AADC 2 yang dirangkum brilio.net, Kamis (28/4). Awas baper!

1. Chemistry Rangga dan Cinta masih sangat kental seperti AADC tahun 2002,  awas inget mantan!

2. Keindahan Yogya yang belum begitu terjamah menjadi latar belakang film ini, ekstotis lho!

3. Tak hanya Yogya, setting New York pun menjadi daya tarik tersendiri dengan musim saljunya, aww baper!

4. Kisah tentang geng Cinta pun tak luput menyita perhatian, bikin kangen geng SMA

5. Dian Sastro sukses memerankan Cinta dengan apik, emang ikonik banget sih!

 

6. Tak lagi kaku, Rangga lebih humoris. Penasaran?

7. Semua aktris dan aktor berperan apik dan mendalami karakter dengan sangat sempurna, tak berbeda dengan saat di AADC tahun 2002.

8. Riri Riza tak berlebihan dalam menggarap film ini, tapi justru hasilnya sangat mengena dan membekas di penonton.

9. Asyiknya reuni geng Cinta, bikin pengen reuni juga!

10. Alur yang cantik dan tak tergesa-gesa, namun pas, membuat penonton betah dan tak terasa dalam menikmati film yang berdurasi 121 menit ini.

8 Momen seru gala premiere AADC 2, bikin nggak sabar nonton!

Gala premierenya saja heboh, bagaimana penayangan perdananya nanti ya…

Brilio.net – Rangga dan Cinta, dua karakter tersimpan baik di ingatan pecinta film. Dua tokoh dari film Ada Apa Dengan Cinta? ini memberikan kenangan tersendiri. Kisah cinta keduanya yang belum mendapatkan kejelasan di film pertama menjadi salah satu alasan mengapa film ini dibikin sekuel. Butuh 14 tahun lamanya bagi pecinta film Indonesia untuk mengetahui kelanjutan kisah cinta yang penuh dengan puisi ini.

Gala Premiere pemutaran perdana AADC 2 pun telah digelar di Empire, Yogyakarta, Sabtu (23/4) malam.  Publik Jogja pun menyambut antusias penayangan perdana film yang bikin baper itu di mereka. Tak heran mulai pukul 4 sore, mereka sudah berdatangan di lokasi gala premiere Kamu tidak sempat menyaksikan Gala Premiere AADC 2 karena sedang berada di luar kota atau ada kesibukan lain? Tidak perlu khawatir, brilio.net secara khusus menghadirkan 7 fakta megahnya premiere AADC 2 yang bikin nggak sabar untuk menontonnya.

1. Digelar dengan megah dan glamour.

Sebuah keputusan dan keberanian besar telah diambil kru film untuk menggelar Gala Premiere di Jogja, keputusan ini rupanya sangat tepat. Persiapan dekorasi tempat Gala Premiere telah dipersiapkan dari sebulan lamanya. Lokasi red carpet yang luas dan dibuat dengan kesan mewah dan glamour menambah takjub para tamu yang datang.

2. Dihadiri seniman-seniman terbaik Jogja.

Seperti yang kita ketahui sebelumnya bahwa AADC 2 digarap dengan sangat serius oleh Mira Lesmana dan tim. AADC 2 Menghadirkan karya-karya terbaik seniman Jogja seperti Eko Nugroho dan Pepeng. Tentunya para seniman tersebut juga hadir.
3. Antusias fans menunggu dari pagi.

Banyak dari penggemar yang sudah menunggu sedari pagi, misalnya saja Tika (23), “Berhubung weekend juga kan, saya ke Empire udah dari pagi, nunggu mau ketemu Rangga nih,” ceritanya.

4. Tidak semua cast sudah menonton filmnya.

Nah fakta mengejutkan berikutnya yang terungkap adalah tidak semua cast telah menonton film ini. “Aku belum nonton juga filmnya yang udah tuh baru Dian, Nico sama Asti aja jadi aku sama penasarannya dengan masyarakat,” ujar Sissy Priscillia alias Milly di lokasi Gala Premiere.

5. Deretan pedangan kaki lima memadati Empire Jogja.

Kalangan lain yang mendapatkan kebahagian dari pagelaran Gala Premiere ini adalah para pedagang kaki lima sekitar Empire yang kebanjiran pelanggan secara tiba-tiba. “Seneng sebagai masyarakat Jogya bisa kecipratan rejeki, pembeli rame,” Sumadi (34)

6. Dipandu langsung Nirina Zubir.

 

Kalau kamu pernah datang ke Gala Premiere sebuah film, maka kamu akan merasakan hal berbeda saat datang ke Gala Premiere AADC 2. Mengapa? karena Gala Premiere AADC 2 ini tidak sekadar menjadi momentum pemutaran perdana bahkan merangkap menjadi bincang-bincang dan jumpa fans yang dipandu langsung oleh presenter dan aktris cantik Nirina Zubir lho.

7. Tamu undangan berasal dari instansi pemerintah, seniman hingga mahasiswa.

Keistimewaan berikutnya yang dihadirkan Gala Premiere AADC 2 adalah kehadiran tamu undangan dari berbagai kalangan. Red carpet Gala Premiere terasa sangat hangat dengan adanya berbagai kalangan yang berkumpul menjadi satu. Tidak hanya orang penting saja yang hadir, masyarakat umum pun diberi akses untuk menonton AADC 2 setelah memenangkan berbagai kuis berhadiah tiket nonton. Ah, karya Mira Lesmana dan Riri Riza memang selalu dinantikan.

8. Pemutaran dilakukan sebanyak dua shift.

Hanya AADC yang bisa melalukan ‘kegilaan’ ini. Bayangkan saja ini baru premiere dan tamu undangan yang jumlahnya ratusan harus mengantri untuk menonton penampilan terbaik Cinta dan Rangga. Seluruh studio yang ada di Empire penuh dan masih ada yang tidak kebagian, hal ini membuat pihak Empire bahkan menambah waktu penayangan untuk mereka yang tidak memperoleh studio. Waw, keren kan?

Jika Gala Premierenya aja seheboh ini kamu tentu bisa nebakkan gimana hebohnya saat film ini di putar tanggal 28 April 2016 nanti, pokoknya jangan sampai ketinggalan.

 

 

Ada Apa dengan AADC? Ingatan dan Kedekatan 03 Mei 2016 01:29:01 Diperbarui: 03 Mei 2016 13:52:27 Dibaca : 692 Komentar : 2 Nilai : 4 Geng saya yang 2x lipatnya geng Cinta 😀 Tulisan ini dibuat dengan niat. Niatnya, untuk mengingat, tersenyum kecil lalu kembali lagi ke kenyataan. Seperti rasa yang ditinggalkan sesaat setelah bioskop kembali terang pada film Ada Apa dengan Cinta? 2. Saya tidak sedang menganalisis naratif seperti yang saya lakukan pada film-film Usmar Ismail di tesis saya, saya juga tak sedang bikin review yang njelimet tentang film ini, apalagi kritik atau mencoba mencari kausalitas dari setiap “keganjalan” dalam film ini. Saya hanya sedang beromansa dan bercerita populernya film ini pada jamannya hingga “ratusan purnama” kemudian dengan sedikit perspektif ala-ala. Geng Cinta dan Geng Saya Pada saat film pertamanya Ada Apa Dengan Cinta? diputar tahun 2002, saya juga berpakaian putih abu seperti Cinta. Cinta atau Dian Sastrowardoyo adalah patron remaja putri di masanya. Sedang Rangga atau Nicholas Saputra adalah lelaki impian yang bak pungguk rindukan bulan, tak kan kesampaian. Rangga menjadi Nicholas dan Nico menjadi Rangga, lelaki dingin pelit senyum yang berpuisi dan bersembunyi di balik angkuhnya, padahal mencinta. Sedang Cinta, perempuan populer yang menyangsikan rasa. Kisah akhir di bandara pada film pertama ini menyisakan rasa sesal dan sesak karena tangisan hingga keluar bioskop. Saya juga punya geng yang dibentuk sekira pada tahun yang sama dengan geng Cinta, bedanya jumlah kita lebih banyak dua kali lipatnya. Menonton AADC? pada kala itu adalah perjuangan. Seperti mimpi ketemu idola jadi kenyataan, untuk mendapatkan tiketnya pun dilalui dengan peluh dan penderitaan. Setiap pulang sekolah, tiga hari berturut kami mengantri tiket di satu-satunya bioskop yang tersisa di Yogyakarta. Seragam tak kami tanggalkan untuk menonton film Indonesia yang saat itu mulai bernafas lagi setelah sekian lama orang-orang macam saya haus budaya pop. Entah dewa cinta mana yang membuat kami, gerombolan anak SMA rela melakukan apapun demi film ini.  Tiap jam pulang sekolah, bioskop dengan satu teater besar bernama “Mataram” dipenuh sesaki dengan bau matahari dan seragam sekolah. Calo-calo tak kurang banyaknya. Mereka jual tiket dengan harga tiga kali lipatnya. Saya dan geng yang rela tak jajan pun memilih mengantri. Hari pertama dan kedua kami selalu kehabisan tiket, klimaksnya pada hari ketiga, kami mulai susun strategi antri. Sepuluh orang pun disebar ke berbagai penjuru. Saya masih ingat benar, teman saya terhuyung-huyung dengan hijab yang berantakan dan muka penuh keringat mengabarkan dengan tergesa, “kaca loket pecah!” Yaampun, AADC? memang membuat kami mabuk hingga baru beberapa hari kemudian kami dapat tiket. Dapat tiket AADC waktu itu melebihi kebanggan jadi juara kelas. Maka, jika sesenggukan kami setelah menonton AADC, mungkin karena ending cerita yang tak sebanding dengan pengorbanan beberapa hari sebelumnya. Siapa tak suka karakter Cinta dan Rangga yang bertolak belakang namun bagai medan magnet karena perkara puisi? Biar begitu, kami tak bosan nonton lagi dan lagi. Seperti penggemar lainnya, saya bahkan hapal detil adegan, dialog, setting, puisi hingga lagu di sepanjang film. Nge-POP ala AADC? : Refleksi dulu – sekarang AADC? sukses jadi film terlaris di kala lesunya tontonan remaja. Karena AADC? juga perlahan film-film lain diproduksi, optimis ada penontonnya. AADC?, Cinta sebagai patron dan Rangga yang utopia begitu membekas hanya dengan gambaran keseharian remaja yang tengah jatuh cinta. Saya masih ingat, tak berapa lama setelah film ini, rambut panjang dan kaos kaki panjang ala Cinta jadi trendi. Buku berjudul “AKU” yang dikarang Sjumanjaya dicetak ulang karena anak muda berbondong-bodong jadi puitis. Dunia remaja pun seolah hanya milik “Rangga dan Cinta”. Setelah ratusan purnama, Rangga Cinta versi dewasa mencoba mengisi ruang kekosongan penonton di kursi film-film Indonesia. Kini, seperti geng Cinta, teman-teman yang menonton dan mengantre AADC? saat itu hampir semuanya telah menikah dan punya anak. Saya merasa bak Cinta saja yang diantara temannya belum menikah dan merasa harus “menyelesaikan sesuatu”. Iklan komersil pun dibuat untuk menangkap pasar setianya, menjadikan film ini populis sekaligus politis.  Geng Cinta yang dulu gembira, kini punya kehidupan masing-masing sehingga butuh teknologi untuk sekedar udar rasa. Kami yang dulu menganggap janji harus ditepati, kini sibuk berbincang lewat aplikasi obrolan bernada khas, jadi, ingkar pun tak mengapa. Seolah bisa menemukan “kisah lama”, aplikasi ini pun cocok untuk pasar generasi nunduk. Jargon dibuat, meme atau komik plesetan menyebar tak karuan. Bahkan, Jogja, kota yang saat film pertama hanya kebagian satu layar, kini jadi bintangnya.  Seluruh destinasi dieksplorasi, issu publik difasilitasi, dari seniman, artisan, hingga figuran diberi ruang eksistensi. Jogja tiba-tiba jadi obrolan setelah iklan air mineral. Beragam tulisan, spoiler, critical review hingga artikel semacam “16 lokasi syuting AADC 2 dari yang romantis sampai bikin baper” berbondong dibuat. Waktu gala premiere yang tumben-tumbennya diadakan di Jogja, Mira Lesmana hanya bilang kalau terlalu sering acara begituan diadakan di Jakarta , lagian sebagai apresiasi atas kontribusi warga Jogja. Tentang Ingatan Kembali ke soal ingatan, maka saya dan geng cantik (untuk membedakannya dengan geng Cinta) pun kembali berinisiatif untuk mengenang romansa. Maka, saat tahu film ini akan diputar, rencana pun dibuat. Syaratnya cukup tidak sederhana, kita nonton bareng seperti 14 tahun yang lalu, artinya, saat kita belum seperti sekarang, tanpa anak dan suami. Bagi saya tentu ini mudah karena sama saja seperti acara nonton lainnya, tapi buat teman-teman saya, kesempatan ini istimewa.  Mereka harus jauh-jauh hari booking jadwal orangtua (atau mertua) untuk dititipi anaknya dan meminta restu suami. Bahkan, bagi sebagian dari anggota geng cantik, ini kali pertama lagi mereka pergi ke bioskop setelah melahirkan anak bertahun-tahun yang lalu. Romansa yang dihadirkan AADC 2 bukan cuma mengaduk kenangan Rangga dan Cinta, tapi juga pengalaman menonton kami yang mungkin kalau saja kami sekolah di SMA Gonzaga (satu sekolah dengan Cinta) pasti sudah jadi tandingan geng Cinta. Menonton (lagi) #AADC2 Apa rasanya mengulang tradisi? Jawabannya sangat mudah: selalu salah. Kenapa? Karena adegan, dialog, eksplorasi rasa, ekspresi hingga lifestyle yang disajikan dalam film ini sebenarnya mimikri. Kami tidak berjarak dengan film ini hingga terlalu ribut untuk nonton di bioskop. Waktu menonton AADC? kita manggut-manggut di tiap scene, mulai dari saat Cinta sebenarnya sedang jatuh cinta, hingga saat anggota geng berkumpul di rumah Cinta dan nge-dance bareng pakai lagu “Di mana Malumu”.  Percaya gak? Saya pun masih hafal gerakannya. Selama menonton, kami juga cekikikan seolah menertawai diri sendiri saat lihat Karmen yang sok nantang atau Milly yang bego banget! Nah, kalau sosok Rangga, setiap remaja putri pasti pernah memimpikan lelaki semacam dia. AADC? terlalu dekat dengan keseharian remaja. Ketika plot beralih dari relasi Cinta dan geng-nya ke hubungan romantis singkat Rangga dan Cinta, kami merasa ada di dalamnya yang kalau jatuh cinta, teman bukan lagi perkara. Jadi, selalu saja, di sepanjang film, komentar bergulir, cibiran menyentil dan diam-diam mengamini dalam hati padahal beropini sangsi. Ini dia dance legendaris yang masih dihapal gerakannya | foto diambil dari: blog.8share.com Anehnya, setelah empat belas tahun film ini diproduksi lagi, tidak ada yang berubah dari perangai kami. AADC2 versi umur tiga puluhan merupakan mimikri potret perempuan middle age, mid-career dalam relationship yang problematis. Setiap karakter yang tipikal di AADC? berkembang menjadi sosok yang bisa ditebak pada AADC2. Terlepas dari kejanggalan kausalitas dalam plotnya, konspirasi semesta bisa diterima sebagai apologinya. Toh dalam keseharian, orang-orang seumuran saya (dan Cinta di film AADC2) juga sering mensyukuri kemurahan semesta dalam mempertemukan hal-hal yang tak mungkin. AADC2 memang sengaja hadir untuk menyingkap yang tersisa.  Scene penting pertemuan kedua Rangga dan Cinta dalam obrolan serius mampu menggelitik hati, kenapa? Karena bagi perempuan seumur kami yang pernah punya cinta pertama seistimewa Rangga, kami tahu benar rasanya putus cinta, dilakukan dengan sepihak pula. Kami bisa rasakan radangnya Cinta saat sedikit demi sedikit diceritakan apa yang terjadi selama hubungan mereka. Sikap yang dipilih Cinta, ekspresi dan ungkapan yang keluar dari mulutnya, hingga kegalauannya sesaat sebelum pernikahan, kami tahu benar.  Jadi, menonton lagi AADC kali kedua ini seperti mengulang ingatan. Anehnya, kami masih senyum-senyum sendiri dan sibuk mengotak-atik gathuk (saya tak tahu bagaimana mengungkapkannya dalam bahasa lain) kehidupan Cinta dan kehidupan kami. Bahkan, jika dulu kami mengidentifikasi diri sebagai Cinta, hingga kini perasaannya masih sama. Padahal kami sudah lebih tua seperti Cinta, sudah melalui banyak tahap percintaan dan perjalanan hidup. Kenapa ya? Mungkin karena ingatan tak pernah usang. Seperti Cinta dewasa yang matang, saat ingatan romansa diulik, dia jadi seperti abege lagi yang kehilangan akal sehat, ngalor ngidul di Jogja untuk meretas rasa. Kami pun juga begitu, bisa saja kehilangan logika saat ingatan menjelma, setidaknya terjadi pada saya. Semoga saya hanya berlebihan semata. Tapi buktinya, teman se-geng saat nonton juga masih saja ribut tak karuan di bioskop. Mungkin memang cerita Cinta ini, hingga ratusan purnama sekalipun, masih sangat dekat dengan kami. Lucunya, kalau diperhatikan, pola konflik antara Cinta dan Rangga versi SMA dan versi tiga puluhan ini sama. Di AADC 2, saat Karmen dan Milly memergoki Rangga di Jogja, Cinta mentah-mentah menolak ide pertemuan kembali dengan Rangga. Tapi karena sebenarnya Cinta juga penuh tanda tanya, ia akhirnya setuju untuk bertemu serius dengan Rangga. Sequence itu sama dengan AADC? ketika Cinta sakit hati ditolak mewawancarai Rangga, ia justru diam-diam jalan berdua karena memendam rasa. Rangkaian adegan kebingungan teman-temannya akan keberadaan Cinta yang tak kunjung selesai menyelesaikan masa lalunya bersama Rangga di AADC2 sama dengan telepon Alya sebelum percobaan bunuh diri dan teman-temannya yang kebingungan Cinta di mana, padahal ia bersama Rangga.  Sikap tarik ulur Cinta yang emosional dan opini Rangga yang sinis juga membentuk konflik-konflik kecil di AADC? maupun AADC2. Bahkan scene bandara saat kepulangan Rangga ke New York dibuat serupa dengan scene epic keberangkatannya ke New York di bandara 14 tahun lalu. Malah secara sengaja, adegan berganti baju dan kebimbangan memakai lipstik di AADC? dibuat sama persis lengkap dengan musik latar yang sama dengan angle yang hanya lebih sempit pada AADC2. Namun, Mira Lesmana sepertinya tak punya niat untuk membuat lanjutan kisah Cinta dan Rangga, terlihat dari ending yang memuaskan semua penonton. Rangga dan Cinta yang dulu dan sekarang | sumber: http://www.nyunyu.com & lifestyle.liputan6.com Hmm, apalah saya yang mampu menerka arah industri. Jika belum seminggu saja, penonton AADC2 sudah mencapai dua juta. Mungkin, pada AADC? dulu, Mbak Mira sang penggagas tak pernah berpikir untuk membuat sekuelnya. Tapi, respon penonton yang bersesakan hingga film ini bertahan lebih dari satu bulan di bioskop yang sudah mati suri di kala itu membawa ingatan yang manis, akan ranumnya konsumsi budaya pop.  Kini, teman-teman geng saya sepanjang film sibuk berkomentar semacam: “merk lipstiknya tadi apa?” | “ooh, hapenya lenobow (plesetin aja ya) semua ya” | “makanya kalo mau tetep cantik kayak Dian Sastro harus minum air putih terus”. Artinya, jika strategi film ini baik yang pertama maupun kedua selalu sukses, bukan tidak mungkin penonton macam saya dan geng disuguhi lagi ingatan-ingatan cerita cinta bak negeri dongeng ala rezim (istilah sepihak yang mungkin kurang tepat) berjuluk Ada Apa Dengan Cinta? Ohya, supaya paripurna sebagai penganut budaya pop, kami pun membuat meme, yah, meme ala-ala yang menyenangkan hati… Sazkia Noor Anggraini Penonton – Pengajar – Penggemar Andaikan semua mantan kayak Rangga Andaikan mamah dedeh mengerti kami

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sazkiana/ada-apa-dengan-aadc-ingatan-dan-kedekatan_57279c6db27e611b1692bdd4

Borobudur melihat sunrise (BOS Facebook)
zuck-borobudur1
zuckerberg3
Puntuk Setumbu
DSCN0317.JPG

Puluhan wisatawan, baik mancanegara maupun nusantara, menyaksikan matahari terbit dari Bukit “Punthuk Setumbu” sekitar 3 kilometer barat Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Matahari terbit yang terlihat dari tempat dengan ketinggian sekitar 1.300 meter dari permukaan air laut dengan pemandangan alam kawasan Candi Borobudur yang dikelilingi kabut itu terjadi mulai sekitar pukul 05.25 WIB.

Siluet karena matahari yang mulai terbit itu disaksikan mereka dari “Punthuk Setumbu” selama sekitar 30 menit. Posisi matahari terbit pada hari itu, di kanan atau selatan Candi Borobudur.

Bukit “Punthuk Setumbu” di Desa Karangrejo, KecamatanBorobudur, Kabupaten Magelang, sejak beberapa tahun terakhir dikembangkan oleh masyarakat kawasan Candi Borobudursebagai lokasi pariwisata.

Dari lokasi parkir kendaraan wisata hingga puncak Bukit “Punthuk Setumbu” sejauh sekitar 425 meter. Setiap wisatawan dikenai tarif menuju tempat itu Rp15 ribu. Pihak pengelola kepariwisataan setempat memberikan layanan minuman kopi dan teh hangat kepada pengunjung.

DSCN0293.JPG

 

(suasana setelah sunrise, di bukit puntuk setumbu)

setumbu1

setumbu4

 

Setelah selesai memotret sunrise di Bukit Punthuk Setumbu, kami kemudian menyusuri jalan setapak ke arah Menoreh. Puncak menara “Gereja Ayam” yang terlihat dari Punthuk Setumbu menjadi patokan.

Perjalanan sekitar 20 menit di antara pepohonan yang rindang dengan variasi trekking menurun dan mendaki menjadikan perjalanan pagi itu terasa menyehatkan. Bangunan “Gereja Ayam” berdiri di area yang sangat strategis di salah satu punggung Bukit Menoreh.
3. Gereja Ayam

IMG_20151218_081912.jpg

(koleksi Foto Pribadi_Bersama adik ipar)

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Rasa penasaran terhadap sebuah bangunan misterius di Desa Gombong, KecamatanBorobudur, Magelang, Jawa Tengah, membawa sejumlah wisatawan menyusuri jalan setapak ke Bukit Menoreh.

KompasTravel termasuk yang ingin menuntaskan rasa penasaran sejak bangunan yang tak selesai itu ramai diperbincangkan di media sosial, bahkan dipublikasikan di sebuah media internasional terkemuka.

Orang-orang menyebut bangunan itu dengan sebutan “Gereja Ayam” karena desain bangunannya mirip seekor ayam lengkap dengan ekor dan kepalanya. Padahal, menurut cerita pembuatnya, bangunan itu justru meniru bentuk seekor burung merpati.

Jika dilihat dari udara, bangunan itu menyerupai burung raksasa yang sedang berada di tengah hutan. Di sekitarnya masih terdapat pepohonan yang rindang dan belukar yang cukup banyak sehingga membuat udara pagi itu terasa sejuk.

Saat tiba di “Gereja Ayam”, puluhan wisatawan telah lebih dulu tiba. Semuanya ingin menuntaskan rasa penasaran mereka.

“Ini sebenarnya merupakan rumah doa bagi siapa saja,” ujar Yono (60), yang bertugas menjaga pintu masuk ke dalam bangunan, pagi itu.

IMG_20151218_074958

(nampak di belakang gereja ayam adalah “Punthuk Purwosari”)

IMG_20151218_075004

(sebelah kiri adalah punthuk setumu)

IMG_20151218_074827

 

IMG_20151218_081138

IMG_20151218_081723

IMG_20151218_081046IMG_20151218_080505
(jangan takut kehausan atau kelaparan karena ada yang jualan didalam gedung)
IMG_20151218_080110
(berfoto di bagian paruh burung)
IMG_20151218_075533

Berikut puisi lengkap berjudul Batas, karya Aan Mansyur.

Semua perihal diciptakan sebagai batas. Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain. Hari ini membatasi besok dan kemarin. Besok batas hari ini dan lusa. Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota, bilik penjara dan kantor walikota, juga rumahmu dan seluruh tempat di mana pernah ada kita.

Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta. Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini dipisah kata-kata. Begitu pula rindu, hamparan laut dalam antara pulang dan seorang petualang yang hilang. Seperti penjahat dan kebaikan dihalang uang dan undang-undang.

Seorang ayah membelah anak dari ibunya—dan sebaliknya. Atau senyummu, dinding di antara aku dan ketidakwarasan. Persis segelas kopi tanpa gula menjauhkan mimpi dari tidur.

Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi.

Baca 30 rangkaian kata lainnya di buku kumpulan puisi Tidak Ada New York Hari Ini karya Aan Mansyur yang rilis hari pada, Kamis, 28 April.—Rappler.com